Selasa, 09 Juni 2026

    BPOM Gelar Dialog Bersama Industri Farmasi dan Pedagang Besar Farmasi Bahas Ketahanan Obat Nasional di Tengah Dinamika Geopolitik Global

    Jakarta — Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyelenggarakan kegiatan Dialog Kepala BPOM dan Pelaku Usaha Industri Farmasi dengan tema “Menjaga Ketahanan Obat Nasional sebagai Respon Kesiapsiagaan Dampak Geopolitik Global terhadap Stabilitas Harga dan Akses Obat di Indonesia”. Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu, 06 Mei 2026 di Gedung Bhinneka Tunggal Ika BPOM, Jakarta, menjadi forum komunikasi strategis antara regulator dan pelaku usaha guna membahas tantangan global yang berpotensi memengaruhi stabilitas rantai pasok, harga, serta akses masyarakat terhadap obat.

    Kegiatan dialog dipimpin langsung oleh Kepala BPOM, dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., dan dihadiri oleh Manajemen Puncak Industri Farmasi dan Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang menggambarkan ekosistem hulu dan hilir sektor farmasi

    Dalam kegiatan tersebut membahas kondisi terkini sektor farmasi nasional di tengah dinamika geopolitik global yang berdampak terhadap rantai pasok bahan baku obat, bahan kemas, dan komponen pendukung lainnya. Konflik geopolitik global dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas harga bahan baku, meningkatkan biaya pengadaan dan distribusi, serta memengaruhi akses dan ketersediaan obat di dalam negeri.

    Selain itu, dialog juga membahas tingginya ketergantungan industri farmasi nasional terhadap impor bahan baku obat dan bahan pendukung produksi, sehingga industri rentan terhadap gangguan pasokan global dan fluktuasi nilai tukar. Pelaku usaha menyampaikan tantangan terkait peningkatan lead time pengiriman, kenaikan biaya logistik, keterbatasan fleksibilitas perubahan sumber bahan baku, serta kebutuhan penguatan kapasitas produksi bahan baku obat dalam negeri.

    Melalui forum ini, BPOM bersama pelaku usaha melakukan pertukaran informasi dan masukan terkait kondisi industri terkini serta langkah-langkah mitigasi risiko untuk menjaga keberlangsungan produksi dan distribusi obat. Diskusi juga menekankan pentingnya penguatan koordinasi antara regulator dan pelaku usaha dalam rangka menjaga ketahanan sektor farmasi nasional.

    Taruna Ikrar dalam kesempatan tersebut menegaskan komitmen BPOM untuk terus melakukan pengawasan dan pengawalan terhadap ketersediaan, keamanan, mutu, dan khasiat obat yang beredar di Indonesia. BPOM juga mendorong penguatan kemandirian industri farmasi nasional melalui peningkatan penggunaan bahan baku obat dalam negeri, diversifikasi sumber pasok, serta penguatan sistem distribusi obat yang efektif dan berkelanjutan.

    Artikel Terkait

    Artikel Terbaru

    Artikel Lainnya