Rabu, 08 Juli 2026

    Forum Strategis Perkuat Sinergi Lintas Sektor untuk Mendorong Kemandirian Produksi Garam Farmasi dan Bahan Baku Parasetamol Dalam Negeri

    Bogor – Dalam upaya memperkuat ketahanan kesehatan nasional melalui peningkatan kemandirian bahan baku obat, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyelenggarakan Forum Strategis “Produksi Garam Farmasi dan Bahan Baku Parasetamol Dalam Negeri: Menentukan Arah, Membangun Sinergi” pada Selasa (30/6) di Bogor. Kegiatan ini menghadirkan perwakilan kementerian/lembaga, asosiasi, serta pelaku industri farmasi dan industri bahan baku obat untuk membahas tantangan sekaligus merumuskan strategi penguatan produksi bahan baku farmasi dalam negeri.

    Penyelenggaraan forum ini dilatarbelakangi oleh masih tingginya ketergantungan industri farmasi nasional terhadap bahan baku impor. Kondisi tersebut menyebabkan rantai pasok industri farmasi rentan terhadap dinamika geopolitik, gangguan pasokan global, serta fluktuasi harga bahan baku. Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis dan sinergi lintas sektor untuk memperkuat industri hulu farmasi sehingga mampu mendukung ketahanan kesehatan nasional.

    Dalam forum tersebut, BPOM menyampaikan bahwa pengembangan garam farmasi dalam negeri telah menunjukkan kemajuan yang signifikan. Melalui pendampingan regulatori, koordinasi lintas sektor, sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), serta pengawasan rutin sesuai amanat Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2025, kapasitas produksi garam farmasi nasional saat ini telah mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Meski demikian, masih terdapat tantangan yang perlu terus diatasi, antara lain peningkatan mutu, daya saing harga, kepastian pasokan, serta percepatan proses change source agar pemanfaatan garam farmasi lokal semakin optimal.

    Selain garam farmasi, forum juga memberikan perhatian khusus terhadap keberlanjutan produksi bahan baku parasetamol dalam negeri. BPOM menjelaskan bahwa pendampingan terhadap industri bahan baku parasetamol telah dilakukan sejak tahun 2016. Namun, keberlanjutan produksinya masih menghadapi berbagai kendala, terutama rendahnya penyerapan pasar serta harga produk impor yang lebih kompetitif dibandingkan produk lokal. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi keberlangsungan industri bahan baku parasetamol nasional apabila tidak diikuti dengan dukungan kebijakan dan komitmen penggunaan bahan baku dalam negeri.

    Kegiatan ini menghadirkan perwakilan dari berbagai kementerian, lembaga, asosiasi, dan industri farmasi. Narasumber berasal dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan melalui Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim serta Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian melalui Asisten Deputi Pengembangan Industri Agro, Kimia, Farmasi, dan Tekstil. Talkshow dimoderatori oleh Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM.

    Turut hadir sebagai penanggap perwakilan dari Direktorat Produksi dan Distribusi Kefarmasian serta Direktorat Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan; Direktorat Impor Kementerian Perdagangan; Direktorat Industri Kimia Hilir dan Farmasi serta Pusat Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri Kementerian Perindustrian; dan Asisten Deputi Bidang Kelautan, Perikanan, dan Kehutanan, Sekretariat Kabinet.

    Forum ini juga melibatkan Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia, Asosiasi Biofarmasi dan Bahan Baku Obat, International Pharmaceutical Manufacturers Group, serta perwakilan beberapa Industri Farmasi.

    Berbagai kementerian dan lembaga yang hadir menyampaikan pandangan mengenai pentingnya membangun ekosistem industri bahan baku farmasi yang terintegrasi. Pemerintah menilai bahwa keberhasilan pengembangan garam farmasi dapat menjadi pembelajaran dalam pengembangan bahan baku farmasi strategis lainnya. Dengan kapasitas produksi garam farmasi nasional yang telah mencukupi kebutuhan domestik, fokus ke depan diarahkan pada penguatan implementasi kebijakan, peningkatan kualitas produk, percepatan adopsi oleh industri farmasi, serta penguatan daya saing terhadap produk impor.

    Sementara itu, perwakilan industri farmasi dan asosiasi menyampaikan bahwa keberlanjutan industri bahan baku dalam negeri tidak hanya ditentukan oleh kemampuan produksi, tetapi juga memerlukan kepastian permintaan (demand), iklim usaha yang kondusif, serta kebijakan yang mampu menciptakan daya saing produk lokal. Pengalaman pengembangan bahan baku parasetamol menunjukkan bahwa tanpa dukungan pasar yang memadai, investasi industri menjadi sulit berkembang meskipun kapasitas produksi telah tersedia.

    Forum juga menjadi wadah diskusi mengenai berbagai langkah yang dapat dilakukan untuk mempercepat peningkatan penggunaan bahan baku produksi dalam negeri. Dalam hal ini, BPOM menegaskan komitmennya untuk terus mendukung percepatan proses change source sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemanfaatan bahan baku lokal, dengan tetap menjamin pemenuhan aspek mutu, keamanan, dan khasiat obat.

    Seluruh peserta forum sepakat bahwa penguatan industri bahan baku farmasi memerlukan kolaborasi yang berkelanjutan antara pemerintah, industri, asosiasi, dan pemangku kepentingan lainnya. Sinergi lintas sektor dinilai menjadi faktor kunci dalam membangun ekosistem industri yang mampu mendukung kemandirian bahan baku obat sekaligus memperkuat ketahanan kesehatan nasional.

    Hasil Forum

    Forum menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, antara lain penguatan fondasi regulasi yang didukung strategi dan rencana aksi yang komprehensif, peningkatan investasi dan keberlanjutan produksi lokal melalui kepastian permintaan, pembangunan ekosistem industri farmasi berbahan baku dalam negeri melalui sinergi lintas sektor, peningkatan daya saing garam farmasi dan bahan baku farmasi lokal, serta dukungan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan industri bahan baku dalam negeri, termasuk melalui pertimbangan pembatasan impor bahan baku.

    Artikel Terkait

    Artikel Terbaru

    Artikel Lainnya