KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN  
NOMOR 231 TAHUN 2023  
TENTANG  
RENCANA KINERJA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN TAHUN 2024  
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA  
KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN,  
Menimbang : a.  
bahwa dalam rangka penyusunan rencana kerja dan  
penganggaran Badan Pengawas Obat dan Makanan  
Tahun 2024, perlu disusun Rencana Kinerja Badan  
Pengawas Obat dan Makanan Tahun 2024;  
b.  
bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 5 ayat (3) Peraturan  
Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 9 Tahun 2020  
tentang Rencana Strategis Badan Pengawas Obat dan  
Makanan, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan  
memiliki kewenangan untuk menetapkan Pedoman  
penyusunan serta pemantauan dan evaluasi Rencana  
Strategis Tahun 2020-2024 di lingkungan Badan  
Pengawas Obat dan Makanan;  
c.  
bahwa  
berdasarkan  
pertimbangan  
sebagaimana  
dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan  
Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan  
tentang Rencana Kinerja Badan Pengawas Obat dan  
Makanan Tahun 2024;  
Mengingat  
: 1.  
Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2017 tentang  
Sinkronisasi Proses Perencanaan dan Penganggaran  
Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik  
Indonesia Tahun 2017 Nomor 105, Tambahan Lembaran  
Negara Republik Indonesia Nomor 6056);  
2.  
3.  
4.  
Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem  
Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (Lembaran  
Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 80);  
Peraturan Presiden Nomor 80 Tahun 2017 tentang Badan  
Pengawas Obat dan Makanan (Lembaran Negara Republik  
Indonesia Tahun 2017 Nomor 180);  
Peraturan  
Menteri  
Perencanaan  
Pembangunan  
Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan  
Nasional Nomor 5 Tahun 2019 tentang Tata Cara  
Penyusunan Rencana Strategis Kementerian/Lembaga  
Tahun 2020-2024 (Berita Negara Republik Indonesia  
Tahun 2019 Nomor 663) sebagaimana telah diubah  
dengan Peraturan Menteri Perencanaan Pembangunan  
Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan  
Nasional Nomor 6 Tahun 2020 tentang Perubahan atas  
Peraturan  
Menteri  
Perencanaan  
Pembangunan  
Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan  
Nasional Nomor 5 Tahun 2019 tentang Tata Cara  
Penyusunan Rencana Strategis Kementerian/Lembaga  
- 2 -  
Tahun 2020-2024 (Berita Negara Republik Indonesia  
Tahun 2020 Nomor 635);  
5.  
Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan  
Reformasi Birokrasi Nomor 88 Tahun 2021 tentang  
Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah  
(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor  
1569);  
6.  
7.  
Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 9  
Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Badan Pengawas  
Obat dan Makanan Tahun 2020-2024 (Berita Negara  
Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 446);  
Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 21  
Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan  
Pengawas Obat dan Makanan (Berita Negara Republik  
Indonesia Tahun 2020 Nomor 1002) sebagaimana telah  
diubah dengan Peraturan Badan Pengawas Obat dan  
Makanan Nomor 13 Tahun 2022 tentang Perubahan atas  
Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 21  
Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan  
Pengawas Obat dan Makanan (Berita Negara Republik  
Indonesia Tahun 2022 Nomor 629);  
8.  
Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 22  
Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit  
Pelaksana Teknis di Lingkungan Badan Pengawas Obat  
dan Makanan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun  
2020 Nomor 1003) sebagaimana telah beberapa kali  
diubah terakhir dengan Peraturan Badan Pengawas Obat  
dan Makanan Nomor 24 Tahun 2022 tentang Perubahan  
Kedua atas Peraturan Badan Pengawas Obat dan  
Makanan Nomor 22 Tahun 2020 tentang Organisasi dan  
Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan Badan  
Pengawas Obat dan Makanan (Berita Negara Republik  
Indonesia Tahun 2022 Nomor 1111);  
9.  
Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan  
Nomor HK.02.02.1.2.12.21.467 Tahun 2021 tentang  
Reviu Rencana Strategis Badan Pengawas Obat dan  
Makanan Tahun 2020-2024;  
10. Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan  
Republik Indonesia Nomor 128 Tahun 2022 tentang  
Pedoman Penyelenggaraan Sistem Akuntabilitas Kinerja  
Instansi Pemerintah di Lingkungan Badan Pengawas Obat  
dan Makanan.  
MEMUTUSKAN:  
Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN  
MAKANAN TENTANG RENCANA KINERJA BADAN PENGAWAS  
OBAT DAN MAKANAN TAHUN 2024.  
Kesatu  
: Menetapkan dan memberlakukan Rencana Kinerja Badan  
Pengawas Obat dan Makanan Tahun 2024 yang selanjutnya  
disebut dengan Rencana Kinerja sebagaimana tercantum dalam  
Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari  
Keputusan ini.  
- 3 -  
Kedua  
: Rencana Kinerja sebagaimana dimaksud dalam diktum Kesatu,  
telah mengalami penyesuaian pada target berdasarkan hasil  
monitoring dan evaluasi tahun 2022 sebagaimana tercantum  
dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan  
dalam Keputusan ini.  
Ketiga  
: Rencana Kinerja sebagaimana dimaksud dalam diktum Kesatu  
merupakan acuan bagi Badan Pengawas Obat dan Makanan  
dalam  
melakukan  
penyusunan  
rencana  
kerja  
dan  
penganggaran tahun 2024.  
Keempat  
: Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.  
Ditetapkan di Jakarta  
pada tanggal 13 Juli 2023  
- 4 -  
LAMPIRAN I  
KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN  
NOMOR 231 TAHUN 2023  
TENTANG  
RENCANA KINERJA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN  
TAHUN 2024  
RENCANA KINERJA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN  
TAHUN 2024  
NO  
1
SASARAN STRATEGIS  
INDIKATOR KINERJA  
TARGET  
85  
Terwujudnya Obat dan Indeks Pengawasan Obat dan  
Makanan yang aman dan Makanan  
bermutu  
Persentase  
memenuhi syarat  
Persentase makanan yang  
memenuhi syarat  
Obat  
yang  
97  
87  
86  
2
3
Meningkatnya kepatuhan Indeks kepatuhan (compliance  
pelaku  
kesadaran  
terhadap keamanan dan  
mutu Obat dan Makanan  
usaha  
dan index) pelaku usaha di bidang  
masyarakat Obat dan Makanan  
Indeks kesadaran masyarakat  
(awareness index) terhadap  
Obat dan Makanan yang  
aman dan bermutu  
85  
95  
Meningkatnya kepuasan Indeks  
kepuasan  
pelaku  
pelaku  
usaha  
dan usaha terhadap pemberian  
masyarakat  
terhadap bimbingan dan pembinaan  
kinerja pengawasan Obat pengawasan  
Obat  
dan  
dan Makanan  
Makanan  
Indeks Kepuasan Masyarakat  
atas kinerja pengawasan Obat  
dan Makanan  
83  
91,29  
84,94  
91  
Indeks Kepuasan Masyarakat  
terhadap  
BPOM  
layanan  
publik  
4
5
Meningkatnya  
kebijakan  
Obat dan Makanan  
kualitas Indeks kualitas  
pengawasan pengawasan  
kebijakan  
Obat  
dan  
Makanan  
Meningkatnya efektivitas Persentase Obat yang aman  
pengawasan  
pelayanan  
dan dan bermutu berdasarkan  
di hasil pengawasan  
publik  
bidang Obat dan Makanan  
Persentase Makanan yang  
84  
aman  
berdasarkan  
pengawasan  
dan  
bermutu  
hasil  
- 5 -  
NO  
SASARAN STRATEGIS  
INDIKATOR KINERJA  
Persentase rekomendasi hasil  
TARGET  
82  
pengawasan Obat dan  
Makanan yang ditindaklanjuti  
oleh lintas sektor  
Tingkat efektivitas KIE Obat  
dan Makanan  
Indeks Pelayanan Publik di  
bidang Obat dan Makanan  
97  
4,51  
57  
6
7
Meningkatnya efektivitas Persentase  
putusan  
penegakan hukum pengadilan yang dinyatakan  
terhadap kejahatan Obat bersalah  
dan Makanan  
Meningkatnya regulatory Persentase inovasi Obat dan  
92  
81  
assistance  
dalam makanan yang dikawal sesuai  
pengembangan Obat dan standar  
Makanan  
Persentase  
UMKM  
yang  
menerapkan  
standar  
keamanan dan mutu produksi  
Obat Tradisional, Kosmetik  
dan Makanan  
8
9
Terwujudnya  
pemerintahan  
kerjasama BPOM yang  
optimal  
Terwujudnya SDM BPOM Indeks Profesionalitas ASN  
yang berkinerja optimal  
tatakelola Indeks RB BPOM  
89  
84  
90  
dan  
Nilai AKIP BPOM  
Persentase kerjasama yang  
efektif  
86  
83  
BPOM  
Persentase SDM BPOM yang  
memenuhi  
kompetensi  
standar  
10 Menguatnya laboratorium, Indeks SPBE BPOM  
3,5  
91  
analisis dan rekomendasi  
Persentase  
laboratorium  
pemenuhan  
pengawasan  
kebijakan,  
penerapan  
serta  
e-government  
Obat dan makanan terhadap  
dalam pengawasan Obat  
dan Makanan  
Standar  
Pengujian  
Kemampuan  
Persentase  
analisis dan  
82  
rekomendasi kebijakan di  
bidang pengawasan Obat dan  
Makanan yang dimanfaatkan  
11 Terkelolanya  
Keuangan Opini BPK atas Laporan  
WTP  
95,6  
BPOM secara Akuntabel  
Keuangan BPOM  
Nilai kinerja anggaran BPOM  
,  
- 6 -  
LAMPIRAN II  
KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN  
NOMOR 231 TAHUN 2023  
TENTANG  
RENCANA KINERJA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN  
TAHUN 2024  
KERTAS KERJA INDIKATOR  
1. PERSENTASE OBAT YANG MEMENUHI SYARAT  
a. Berdasarkan hasil evaluasi kinerja 2021, dari 34.404 sampel Obat yang  
diperiksa dan diuji tahun 2021, terdapat 32.755 sampel (95,21%) yang  
dinyatakan memenuhi syarat. Jika dibandingkan dengan target tahun  
2021 sebesar 83,60%, maka realisasi indikator mencapai 113,88%  
(kriteria Sangat Baik). Realisasi ini meningkat 5.09% jika dibandingkan  
dengan realisasi tahun 2020 yaitu 90,60%. Peningkatan ini disebabkan  
meningkatnya jumlah produk yang disampling pada tahun 2021 (34.404)  
dibanding tahun 2020 (26.979). Namun jika dibandingkan dengan target  
2024 (akhir periode Renstra), realisasi 2021 telah melebihi target akhir  
periode Renstra di tahun 2024, sehingga perlu dilakukan reviu target  
untuk tahun 2023 dan 2024.  
b. Telah dilakukan penyesuaian target pada RKP tahun 2023 dan PK tahun  
2023 target dengan mengacu pada tupoksi UPT (sebagai pelaksana teknis  
sampling dan pengujian Obat dan Makanan) serta realisasi tahun 2020  
dan 2021, usulan UPT dengan mempertimbangkan sumber daya yang ada  
dan kondisi lingkungan strategis di 2021-2024.  
c. Metode penetapan target masih mengacu pada metode yang digunakan  
pada penyesuaian target pada saat reviu Renstra, sebagai berikut:  
1) UPT dikategorikan menjadi beberapa kelompok berdasarkan data  
kenaikan realisasi di tahun 2020 dan 2021 serta kemampuan UPT  
berdasarkan sumberdaya yang ada.  
2) Berdasarkan rekap hasil realisasi UPT tahun 2020 dan 2021, trend  
kenaikan pertahun sekitar 1 poin, untuk itu dalam penghitungan  
target Nasional akan tetap menggunakan baseline realisasi tahun  
2021 untuk target 2022 dengan asumsi persamaan lingkungan  
strategis, serta kenaikan per tahun (di 2023 dan 2024) mengikuti trend  
kenaikan target di UPT yaitu sebesar ±1 poin.  
Target (Reviu Renstra 2021)  
Target (menjadi) 2022  
Target Realisasi Realisasi  
No  
Komoditi  
2020  
89,1  
70,7  
2020  
95,15  
89,27  
2021  
96,29  
94,71  
2021  
95,2  
89,3  
2022  
96,2  
93  
2023  
97,1  
96,9  
2024  
98,1  
100,7  
2022  
96,3  
94,7  
2023  
96,8  
96,2  
2024  
97,3  
97,7  
1
2
Obat  
Obat Tradisional  
Suplemen  
Kesehatan  
3
4
73  
91,71  
93,09  
91,7  
93,8  
96,0  
98,1  
93,1  
93,6  
94,1  
Kosmetik  
88,8  
80,4  
88,67  
91,2  
94,89  
94,7  
88,7  
90,3  
92,0  
93,6  
94,9  
96,4  
97,9  
Obat  
91,2  
93,4  
95,5  
97,6  
94,7  
95,7  
96,7  
3) Sehingga target indikator menjadi:  
Persentase Obat yang Memenuhi  
Syarat  
2022  
95  
2023  
96  
2024  
97  
d. Pada tahun 2022 jumlah Obat yang di sampling secara acak adalah  
sebanyak 44.179 sampel atau 100,50% dari jumlah yang ditargetkan  
(43.961 sampel). Dari jumlah Obat yang disampling tersebut sebanyak  
- 7 -  
43.627 sampel telah diperiksa dan diuji, sisanya 552 sampel belum selesai  
uji. Sebanyak 39.146 sampel (89,73%) dinyatakan memenuhi syarat (MS)  
sedangkan sisanya sebanyak 4.481 sampel (10,27%) dinyatakan tidak  
memenuhi syarat (TMS). Realisasi sampel memenuhi syarat sebanyak  
89,73% masih lebih rendah jika dibandingkan dengan target tahun 2022  
(92,25%). Tidak tercapainya target ini disebabkan oleh banyaknya jumlah  
sampel TMS pada tahap pemeriksaan (TIE/ilegal/palsu, rusak,  
kedaluwarsa, TMK label/penandaan). Kondisi ini terjadi karena metode  
sampling acak yang digunakan BPOM dapat menggambarkan kondisi real  
kualitas Obat beredar di masyarakat, sehingga probabilitas hasil  
pemeriksaan dan pengujian sampel TMS menjadi tinggi.  
e. Jumlah sampel yang diperiksa dan diuji pada tahun 2022 (43.627 sampel)  
lebih banyak dibandingkan dengan jumlah sampel yang diperiksa dan  
diuji tahun 2020 (26.979 sampel) dan tahun 2021 (34.404 sampel). Hal  
ini menggambarkan bahwa pengambilan sampel semakin representatif  
terhadap jumlah obat beredar. Namun demikian, jumlah sampel TMS  
tahun 2022 (4.481) jauh lebih banyak dibandingkan tahun 2021 yaitu  
sebanyak 1.649 sampel dan 2020 (2.536 sampel). Hal ini yang  
menyebabkan terjadinya penurunan persentase obat yang memenuhi  
syarat pada tahun 2022 dibandingkan dengan tahun 2021 dan 2020.  
Meskipun demikian realisasi tahun 2022 ini sudah mencapai 92,51%  
terhadap target akhir periode Renstra tahun 2024 (97%).  
f. Berdasarkan penjelasan di atas, maka target nasional pada poin c.3 masih  
relevan untuk dijadikan target pada tahun 2024.  
2. PERSENTASE MAKANAN YANG MEMENUHI SYARAT  
a. Seperti halnya indikator Persentase Obat yang memenuhi syarat, terdapat  
peningkatan realisasi sebesar 7,42% di tahun 2021 dibandingkan dengan  
tahun 2020, dimana dari 13.844 sampel makanan yang diperiksa dan diuji  
sampai Tahun 2021 terdapat 11.849 sampel (85,59%) yang dinyatakan  
memenuhi syarat. Jika dibandingkan dengan target Tahun 2021 sebesar  
80%, maka capaian indikator ini adalah 106,99% (kriteria Baik).  
Sedangkan jika dibandingkan dengan target 2024 (akhir periode Renstra)  
sebesar 86%, maka capaian indikator adalah 99,52%. Hal ini perlu  
menjadi perhatian karena capaiannya berpotensi melebihi target  
akhir periode Renstra di tahun 2024  
b. Telah dilakukan penyesuaian target pada RKP tahun 2023 dan PK tahun  
2023 target dengan mengacu pada tupoksi UPT (sebagai pelaksana teknis  
sampling dan pengujian Obat dan Makanan) serta realisasi tahun 2020  
dan 2021, usulan UPT dengan mempertimbangkan sumber daya yang ada  
dan kondisi lingkungan strategis di 2021-2024  
c. Metode penetapan target sebagai berikut:  
1) Terdapat penurunan 2% pada target 2022 terhadap realisasi tahun  
2021 yang disebabkan oleh justifikasi teknis antara lain:  
Adanya pemberlakuan peraturan pangan olahan baru yang akan  
berdampak pada turunnya persentase label yang MS sebesar  
1.06%. Penurunan ini didapat dari selisih data persentase TMK  
label mayor tahun 2021, sebesar 8.38%, dengan proyeksi data  
label TMK mayor dari jenis pangan yang wajib menerapkan  
ketentuan baru ditahun 2022, sebesar 7.32%.  
Adanya pemberlakukan parameter uji baru yaitu 3-mcpd pada  
kecap di tahun 2022 yang berpotensi menurunkan persentase  
pangan MS sebesar 1.02%. Penurunan ini dihitung dari data  
sample kecap lokal di tahun 2021 sebesar 367. Berdasarkan hasil  
- 8 -  
pengujian 3-MCPD (validasi P3OMN), mayoritas kecap local  
mempunyai hasil yang TMS. Berdasarkan hasil tersebut, apabila  
pada tahun 2022 diasumsikan 50% kecap lokal TMS (184), maka  
setelah dibandingkan dengan total sample pangan, hasil  
penurunannya sebesar 1.04%  
Jika ditotal poin a dan b maka didapat akumulasi penurunan  
sebesar 2.12 2%  
Sehingga diasumsikan target di 2022 sebagai berikut: 85.59% - 2%  
= 83.59 84%  
2) Interval per tahun sebesar 2% didapat dari peningkatan trend  
kenaikan target di UPT mengacu pada metode yang digunakan pada  
penyesuaian target pada saat reviu Renstra, sebagai berikut:  
UPT dikategorikan menjadi beberapa kelompok berdasarkan data  
kenaikan realisasi di tahun 2020 dan 2021 serta kemampuan UPT  
berdasarkan sumberdaya yang ada.  
Berdasarkan rekap hasil realisasi UPT tahun 2020 dan 2021, trend  
kenaikan per tahun sekitar 1.87 1,5 2 poin  
3) Untuk itu dalam penghitungan target Nasional akan tetap  
menggunakan baseline realisasi tahun 2021 berdasarkan SIPT dalam  
penghitungan penyesuaian target 2022 sesuai justifikasi diatas  
Target (Reviu Renstra  
Target (menjadi)  
2022  
Target Realisasi Realisasi  
2021)  
No Komoditi  
2020  
2020  
2021  
2021 2022 2023 2024 2022 2023 2024  
Pangan  
1
78  
79,68  
85,59  
81,2 83 84,2 86 84 86 87  
Olahan  
4) Sehingga target Nasional dan Kedeputian III setelah pembulatan  
menjadi:  
Persentase Makanan yang Memenuhi  
Syarat  
2022  
84  
2023  
86  
2024  
87  
b. Pada tahun 2022 jumlah makanan yang disampling secara acak adalah  
sebanyak 17.649 sampel atau 100,22% dari jumlah yang ditargetkan  
(17.610 sampel). Dari jumlah makanan yang disampling tersebut  
sebanyak 17.386 sampel telah diperiksa dan diuji, sisanya 263 sampel  
belum selesai uji. Sebanyak 14.815 sampel (85,21%) dinyatakan  
memenuhi syarat (MS) sedangkan sisanya sebanyak 2.571 sampel  
(14,79%) dinyatakan tidak memenuhi syarat (TMS).  
c. Jumlah sampel yang diperiksa dan diuji pada tahun 2022 (17.386 sampel)  
jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah sampel yang diperiksa  
dan diuji tahun 2020 (12.319 sampel) dan tahun 2021 (13.844 sampel).  
Di samping itu jumlah sampel TMS tahun 2022 sebanyak 2.571 jauh lebih  
banyak dibanding sampel TMS tahun 2021 yaitu sebanyak 1.995 sehingga  
menyebabkan penurunan persentase makanan yang memenuhi syarat  
pada tahun 2022 dibandingkan dengan tahun 2021.  
d. Realisasi sampel memenuhi syarat sebesar 85,21% lebih tinggi jika  
dibandingkan dengan target tahun 2022 (83%), sehingga capaian dari  
indikator ini adalah sebesar 102,67% terhadap targetnya (Memenuhi  
Ekspektasi). Namun jika dibandingkan dengan target akhir periode  
Renstra tahun 2024 (87%), capaiannya sebesar 97,94%.  
e. Berdasarkan penjelasan diatas, maka target nasional pada poin c.4 masih  
relevan untuk dijadikan target pada tahun 2024.  
- 9 -  
Berikut adalah perubahan target indikator “Persentase Obat yang Memenuhi  
Syarat” dan “Persentase Makanan yang Memenuhi Syarat”:  
Target  
Penetapan  
Realisasi Realisasi Realisasi Target  
2024  
(Reviu  
Renstra)  
94,75  
No Indikator  
Target  
2024  
2020  
2021  
2022  
2023  
1
Persentase  
Obat yang  
Memenuhi  
Syarat  
90,6  
95,21  
89,73  
96  
97  
2
Persentase  
Makanan  
yang  
79,68  
85,59  
85,21  
86  
86  
87  
Memenuhi  
Syarat  
3. INDEKS KEPUASAN PELAKU USAHA TERHADAP PEMBERIAN BIMBINGAN  
DAN PEMBINAAN PENGAWASAN OBAT DAN MAKANAN  
a. Bimbingan dan pembinaan yang dimaksud dalam indikator ini adalah  
bentuk-bentuk layanan yang diberikan BPOM kepada pelaku usaha dalam  
rangka membantu pemenuhan terhadap regulasi (regulatory assistance).  
Pengukuran indeks dilakukan melalui survei dengan mengukur kepuasan  
pelaku usaha yang telah mendapatkan bimbingan dan pembinaan dari  
BPOM dalam 4 ketegori jenis kegiatan berupa Pendampingan, Desk,  
Bimbingan Teknis, dan Sosialisasi. Pelaku usaha yang menjadi target  
responden survei adalah produsen, distributor, importir, eksportir dan  
sarana pelayanan kefarmasian.  
b. Metodologi pengukuran kepuasan menggunakan kerangka teori Customer  
Satisfaction dan konsep Service Quality (ServQual) meliputi aspek  
reliability, assurance, responsiveness, empathy, dan tangible. Survei  
dilakukan secara online menggunakan aplikasi berbasis web dan juga  
terhubung dengan BPOM Operational Center (BOC).  
c. Berdasarkan matriks Trend Capaian IKEPU Tahun 2020-2022, pada tahun  
2021 terdapat penurunan indeks komoditi obat tradisional, suplemen  
kesehatan, dan indeks nasional yang diduga disebabkan oleh adanya  
pandemi Covid-19 varian Delta dan pemberlakuan PPKM yang berdampak  
besar terhadap aktivitas bimbingan dan pembinaan tatap muka sehingga  
banyak kegiatan dilakukan secara online. Oleh karena itu, pada tahun  
2022, telah dilakukan upaya untuk meningkatkan kualitas bimbingan dan  
pembinaan antara lain meningkatkan intensitas bentuk kegiatan yang  
intensif atau personal (one on one) berupa desk dan pendampingan dimana  
jumlah desk komoditi suplemen kesehatan meningkat dari 7 kegiatan (234  
responden mengisi survei) pada tahun 2021 menjadi 12 kegiatan (623  
responden mengisi survei) pada tahun 2022. Selain itu terdapat inovasi  
bentuk kegiatan yang baru seperti layanan keliling dan focus group  
discussion.  
- 10 -  
d. Berdasarkan beberapa upaya tersebut, pada ditahun 2022, realisasi IKEPU  
mencapai nilai 94,8. Hal ini mengindikasikan bahwa pelaku usaha merasa  
Sangat Puas terhadap pemberian bimbingan dan pembinaan pengawasan  
Obat dan Makanan yang diberikan BPOM. Nilai tersebut jika dibandingkan  
dengan target 2022 (89), mencapai 106,5% (Memenuhi Ekspektasi). Namun  
realisasi ini sudah melampai target yang ditetapkan utamanya pada akhir  
periode Renstra (91). Untuk itu terhadap target 2024 dilakukan  
penyesuaian menjadi 95% (pembulatan secara matematis terhadap  
realisasi tahun 2021) dengan asumsi isu strategis pada tahun 2024 masih  
kurang lebih sama dengan 2022.  
4. INDEKS KUALITAS KEBIJAKAN PENGAWASAN OBAT DAN MAKANAN  
a. Indeks Kualitas Kebijakan merupakan instrumen yang dikembangkan oleh  
Lembaga Administrasi Negara (LAN) yang bertujuan untuk mendapatkan  
informasi yang akurat mengenai profil kualitas kebijakan di  
Kementerian/Lembaga (BPOM).  
b. Ruang lingkup kebijakan yang disepakati sebagai Objek yang akan dinilai  
yaitu kebijakan dalam bentuk Peraturan Badan POM yang memenuhi  
ketentuan:  
1) Memiliki jangka waktu pemberlakuan selama 2 (dua) tahun terakhir;  
2) Bukan merupakan peraturan perundang-undangan yang hanya memiliki  
materi muatan pencabutan peraturan perundang-undangan lainnya;  
3) Peraturan perundang-undangan yang berkaitan langsung dengan  
pelaksanaan teknis tugas dan fungsi Badan POM  
c. Kebijakan yang dinilai dalam pengukuran IKK menggunakan metode  
Sampling (random sampling) dari semua kebijakan yang ditetapkan oleh  
K/L/D pada kurun waktu 2 (dua) tahun sebelum tahun pengukuran untuk  
kebijakan dalam bentuk salah satunya Peraturan Lembaga.  
d. Indikator ini diukur menggunakan instrument penilaian dari LAN yang  
dikembangkan dengan berbasis teknologi informasi dengan tahapan dan  
nilai maksimal:  
1. Perencanaan Kebijakan:  
a) Agenda setting (nilai maksimal: 20)  
b) Formulasi Kebijakan (nilai maksimal: 30)  
2. Pelaksanaan Kebijakan:  
a) Implementasi Kebijakan (nilai maksimal: 30)  
b) Evaluasi Kebijakan (nilai maksimal: 20)  
- 11 -  
e. Pada Tahun 2021 terdapat perubahan Instrumen penilaian IKK dibanding  
dengan penilaian IKK Tahun 2020 antara lain:  
1) Pengukuran kualitas kebijakan dilakukan setiap 2 (dua) tahun sekali,  
pertama kali dimulai pada tahun 2021. Sedangkan pada tahun 2020  
penilaian dilakukan secara manual dengan menggunakan expert  
judgement;  
2) Terdapat perubahan skema penilaian sebagai berikut:  
3) Terdapat perubahan mekanisme penilaian IKK pada tahun 2021 yang  
dilakukan penilaian secara sistem dengan menggunakan metode  
Analitycal Hierarchy Process (AHP) yang dibangun oleh Lembaga  
Administrasi Negara bersama Board Member.  
4) Terdapat perubahan kategori indeks penilaian sebagai berikut:  
Interpretasi  
Kepuasan  
(lama)  
Interpretasi  
Kepuasan  
(BARU)  
Skor Indeks  
100  
Skor Indeks 100  
90 - 100  
81 - 89  
71 - 80  
60 - 70  
0 - 59  
91,00 - 100  
80,00 - 90,99  
65,00 - 79,99  
50,00 - 64,99  
<50,00  
Sangat Baik  
Unggul  
Baik  
Sedang  
Sangat Baik  
Baik  
Cukup  
Cukup  
Kurang Baik  
Kurang  
Dimana semula untuk mendapatkan predikat sangat baik harus  
memiliki skor indeks 90-100 namun dengan menggunakan tools baru  
predikat tersebut sudah dapat dicapai dengan skor 80,00 90,99. Hal ini  
disebabkan terdapat perubahan framework IKK dengan lebih  
menyederhanakan jumlah pertanyaan dan mengganti pertanyaan yang  
lebih memfokuskan dalam melakukan analisis kebijakan, sehingga  
untuk mencapainya diperlukan kualitas kebijakan yang lebih baik.  
f. Pada tahun 2021 telah dilakukan penilaian menggunakan tools baru oleh  
Lembaga Administrasi Kebijakan terhadap 5 (lima) kebijakan BPOM yang  
hasilnya disampaikan melalui surat Berita Acara LAN Nomor  
322/D.1.2/KDI.01 tanggal 26 November 2021 tentang Hasil Validasi  
Penilaian Mandiri Pengukuran IKK tahun 2021 BPOM (untuk kebijakan  
Kedeputin I dan III) serta surat LAN Nomor 4895/D.1.2/KDI.02 tanggal 8  
Agustus 2022 tentang Penyampaian Hasil IKK Tahun 2021 (untuk kebijakan  
Kedeputian II). Berdasarkan hasil evaluasi, terdapat gap yang cukup besar  
antara target dan realisasi, salah satunya dikarenakan target IKK BPOM  
tahun 2021 ditetapkan berdasarkan realisasi 2020 dengan mekanisme  
penilaian lama sedangkan realisasi diukur dengan menggunakan  
mekanisme penilaian yang baru. Untuk itu perlu dilakukan reviu terhadap  
- 12 -  
target untuk perencanaan 2023-2024 berdasarkan realisasi 2021 dan  
skema penilaian yang baru.  
g. Berdasarkan hal tersebut, maka telah dilakukan penghitungan ulang  
terhadap target 2022 2024 dengan menggunakan mekanisme penilaian  
yang baru. Penghitungan target Nasional dilakukan melalui pendekatan  
komoditi pada masing-masing kedeputian. Dengan tahapan sebagai berikut:  
1) Dilakukan konversi terhadap bobot tahapan sehingga didapat nilai  
maksimal yang baru untuk masing-masing tahapan dengan mengkalikan  
persentase tahapan dengan persentase proses.  
2) Terhadap realisasi 2021 dihitung persentase capaiannya terhadap nilai  
maksimal baru dengan membagi realisasi dengan nilai maksimal dikali  
100%  
3) Dilakukan prediksi untuk 2022-2024 dengan mengasumsikan di tahun  
2024 BPOM mencapai predikat sangat baik dengan minimal persen  
capaian 81% (dari nilai maksimal (sesuai dengan kategori indeks  
penilaian yaitu dengan rentang 80,00 90,99). Untuk yang sudah  
melampaui capaian 81% dari nilai maksimal, diasumsikan nilainya  
minimal sama dengan tahun 2021 dengan predikat minimanl Sangat  
Baik. Berikut perhitungannya:  
DEPUTI I  
Nilai  
Maksimal  
(Baru)  
Capaian DEP 1  
(Persen thdp nilai maksimal)  
Persen  
(%)  
Realisasi 2021  
Usulan target DEP I  
Proses  
Tahapan  
Reg 1 Reg 2 Rata2 2021  
2022  
71%  
97%  
79%  
90%  
2023  
76%  
97%  
80%  
90%  
2024  
81%  
97%  
81%  
90%  
2022  
14,39  
24,00  
21,65  
24,74  
84,8  
2023  
15,4  
24,0  
22,0  
24,7  
86,1  
2024  
Agenda Setting (45%)  
20,25  
24,75  
27,5  
27,5  
100  
11,79 14,97 13,38 66%  
23,54 24,44 23,99 97%  
25,03 17,64 21,34 78%  
26,28 23,18 24,73 90%  
83,4  
16,40  
24,01  
22,28  
24,75  
87,4  
Perencanaan Kebijakan  
45  
Formulasi Kebijakan (55%)  
Implementasi Kebijakan (50%)  
Evaluasi Kebijakan (50%)  
Evaluasi Kemanfaatan  
Kebijakan  
55  
100  
DEPUTI II  
Proses  
Nilai  
Maksimal  
(Baru)  
Capaian DEP II  
(Persen thdp nilai maksimal)  
Persen  
(%)  
Realisasi 2021  
Usulan target DEP II  
Tahapan  
Reg 1  
Reg 2 Rata2 2021  
2022  
83%  
87%  
67%  
91%  
2023  
83%  
87%  
74%  
91%  
2024  
83%  
87%  
81%  
91%  
2022  
16,75  
21,46  
18,43  
25,07  
81,7  
2023  
16,8  
21,5  
20,4  
25,0  
83,7  
2024  
Agenda Setting (45%)  
20,25  
24,75  
27,5  
27,5  
100  
16,77 16,67 16,72 83%  
22,16 20,69 21,43 87%  
16,74 16,26 16,50 60%  
23,91 26,28 25,10 91%  
79,7  
16,81  
21,53  
22,28  
25,03  
85,6  
Perencanaan Kebijakan  
45  
Formulasi Kebijakan (55%)  
Implementasi Kebijakan (50%)  
Evaluasi Kebijakan (50%)  
Evaluasi Kemanfaatan  
Kebijakan  
55  
100  
DEPUTI III  
Proses  
Nilai  
Maksimal  
(Baru)  
Capaian DEP III  
(Persen thdp nilai maksimal)  
Realisasi  
2021  
Persen  
(%)  
Usulan target DEP III  
Tahapan  
Dep III 2021 2022 2023  
13,59 67% 72% 76%  
20,89 84% 84% 84%  
19,60 71% 75% 78%  
15,00 55% 63% 72%  
69,1  
2024  
81%  
84%  
81%  
81%  
2022  
2023  
15,5  
20,8  
21,4  
19,9  
77,5  
2024  
Agenda Setting (45%)  
20,25  
24,75  
27,5  
27,5  
100  
14,53  
20,86  
20,49  
17,43  
73,3  
16,40  
20,79  
22,28  
22,28  
81,7  
Perencanaan Kebijakan  
45  
Formulasi Kebijakan (55%)  
Implementasi Kebijakan (50%)  
Evaluasi Kebijakan (50%)  
Evaluasi Kemanfaatan  
Kebijakan  
55  
100  
4) Pada penghitungan diatas juga terdapat asumsi target IKK tahun 2022  
yaitu 79,93 jika digunakan mekanisme penilaian yang baru. Asumsi  
target ini tidak merubah target tahunan yang tercantum dalam  
Perjanjian Kinerja, namun digunakan utk merumuskan target 2023 dan  
2024. Selain itu, nilai ini dapat juga digunakan dalam melakukan  
evaluasi untuk melihat akurasi perencanaan pada lapkin tahunan 2022.  
5) Berdasarkan penghitungan diatas, didapat revisi target deputi dan  
nasional IKK tahun 2023 dan 2024 sebagai berikut:  
2023 2024  
DEPUTI I  
DEPUTI II  
DEPUTI III  
86,1  
83,7  
77,5  
87,4  
85,6  
81,7  
TARGET NASIONAL  
82,43 84,94  
- 13 -  
h. Perubahan mekanisme penilaian ini, selain perubahan pada target, juga  
merubah definisi operasional indikator. Perubahan waktu pelaksanaan  
penilaian yang dilakukan 2 tahun sekali mengakibatkan perubahan  
mekanisme penilaian. Dimana di luar tahun penilaian resmi oleh LAN, perlu  
dilakukan penilaian mandiri oleh BPOM guna memelihara konsistensi  
proses penyusunan kebijakan dan memastikan pencapain target pada saat  
akan dilakukan penilaian oleh LAN. Penilaian mandiri dilakukan dengan  
melibatkan tim LAN untuk menjaga objektifitas dari hasil penilaian.  
Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan perubahan manual IKU baik di  
BPOM maupun di Kedeputian. Terlampir perubahan manual IKU yang  
diusulkan.  
i. Beberapa rekomendasi yang dapat dilakukan untuk perbaikan/peningkatan  
IKK BPOM ke depannya diantaranya:  
1) Dilihat dari nilai masing-masing komponen/aspek pengukuran, secara  
umum nilai agenda setting masih rendah, ini menjadi fokus perbaikan ke  
depannya dalam perencanaan kebijakan.  
2) Melakukan perencanaan kebijakan peraturan perundang-undangan di  
bidang Obat dan Makanan serta menyesuaikan dengan tools penilaian.  
3) Meningkatkan koordinasi dengan Lembaga Administrasi Negara sebagai  
instansi yang melakukan penilaian akhir Indeks Kualitas Kebijakan  
5. PERSENTASE MAKANAN YANG AMAN DAN BERMUTU BERDASARKAN  
HASIL PENGAWASAN  
a. Pada tahun 2022, jumlah makanan yang disampling secara targeted  
adalah sebanyak 8.767 sampel dengan 8.605 sampel yang telah selesai  
diperiksa dan diuji. Dari sampel yang selesai, terdapat 7.219 sampel  
(83,89%) yang dinyatakan memenuhi syarat (MS) sedangkan sisanya  
sebanyak 1.386 sampel (16,11%) dinyatakan tidak memenuhi syarat  
(TMS). Realisasi sampel memenuhi syarat sebesar 83,89% jika  
dibandingkan dengan target tahun 2022 (77,5%) menghasilkan capaian  
sebesar 108,25% dengan kategori Memenuhi Ekspektasi. Hal ini  
menunjukkan bahwa fungsi pengawasan (pre dan post market) yang  
dilakukan BPOM terhadap pangan olahan yang beredar telah berjalan  
dengan efektif.  
b. Namun realisasi ini sudah melampai target yang ditetapkan utamanya  
pada akhir periode Renstra (81,5). Untuk itu terhadap target 2024  
dilakukan penyesuaian menjadi 84% (pembulatan secara matematis  
terhadap realisasi tahun 2021) dengan asumsi isu strategis pada tahun  
2024 masih kurang lebih sama dengan 2022.  
6. PERSENTASE PUTUSAN PENGADILAN YANG DINYATAKAN BERSALAH  
a. Persentase jumlah putusan pengadilan yang dinyatakan bersalah dilihat  
dari putusan pengadilan tingkat pertama yang dinyatakan oleh hakim  
Pengadilan Negeri yang diucapkan dalam sidang pengadilan yang bersifat  
terbuka yang di dalamnya berupa vonis pidana dimana terdakwa  
dinyatakan bersalah.  
b. Adapun perhitungan realisasi dari indikator Persentase Putusan  
Pengadilan yang Dinyatakan Bersalah dihitung dengan membandingkan  
jumlah putusan dengan jumlah perkara yang diselesaikan hingga tahap  
II.  
c. Berdasarkan trend data selama tahun 2020-2022, realisasi selama 3  
tahun tersebut tidak pernah mencapai target yang ditetapkan. Hal ini  
- 14 -  
mungkin disebabkan pencapaian indikator dipengaruhi oleh cukup  
banyak faktor eksternal. Proses penyidikan dilakukan oleh Penyidik  
Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Badan POM namun penyelesaian berkas  
perkara hingga penyerahan tersangka dan barang bukti (tahap II)  
dipengaruhi oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Adapun putusan  
pengadilan diberikan oleh Hakim secara merdeka berdasarkan alat bukti  
yang disampaikan JPU dan keyakinan Hakim di persidangan. Untuk itu,  
perlu dilakukan penyesuaian terhadap target 2023 dan 2024.  
d. Berikut realisasi dan capaian indikator Persentase Putusan Pengadilan  
yang Dinyatakan Bersalah:  
Baseline  
(Rata-  
rata  
Realisasi 2023  
2019-  
Penetapan  
Target  
Realisasi Realisasi Realisasi Realisasi  
Target  
No Indikator  
2019  
2020  
2021  
2022  
2024  
2022)  
1
Persentase  
Putusan  
Pengadilan  
yang  
61,11  
45  
54  
50,52  
52,66  
53  
57  
Dinyatakan  
Bersalah  
Diperlukan terobosan atau strategi khusus untuk meningkatkan capaian  
indikator ini ke depannya. Berbagai upaya yang telah dilakukan dan perlu  
dioptimalkan dalam rangka meningkatkan efektivitas penegakan hukum  
terhadap kejahatan Obat dan Makanan antara lain:  
a. Meningkatkan koordinasi dengan Kepolisian RI dalam hal ini Korwas  
PPNS terkait bantuan upaya paksa berupa penangkapan dan  
penahanan dalam setiap operasi penindakan yang dilakukan oleh  
BPOM;  
b. Meningkatkan koordinasi dengan Pengadilan di seluruh Indonesia serta  
Jaksa Penuntut Umum (Kejaksaan) agar dapat memberikan  
penuntutan maksimal terhadap perkara Obat dan Makanan;  
c. Meningkatkan kompetensi PPNS dalam melengkapi pemberkasan agar  
dapat meyakinkan Jaksa Penuntut Umum untuk memberikan  
Tuntutan setinggi-tingginya.  
7. INDEKS SPBE BPOM  
a. Nilai Indeks SPBE adalah nilai indeks yang merepresentasikan tingkat  
pelaksanaan SPBE secara keseluruhan. Nilai indeks SPBE merupakan  
nilai kumulatif dari perhitungan perkalian antara nilai indeks domain dan  
bobot domain.  
b. Indeks SPBE dinilai dari 3 domain yaitu:  
1) Kebijakan Internal yang didalamnya terdapat 2 aspek yaitu Tata Kelola  
dan Layanan;  
2) Tata Kelola SPBE yang didalamnya terdapat 3 aspek yaitu  
Kelembagaan, Strategi dan Perencanaan, dan Teknologi  
dan Komunikasi; serta  
Informasi  
3) Layanan SPBE yang didalamnya terdapat 2 aspek yaitu Administrasi  
Pemerintahan dan Pelayanan Publik  
c. Nilai diperoleh berdasarkan hasil SPBE oleh Kementerian PAN dan RB  
mengacu Peraturan Menteri PANRB Nomor 5 Tahun 2018 tentang  
- 15 -  
Pedoman Evaluasi SPBE atau dari Hasil Penilaian Mandiri Tim SPBE  
BPOM dengan melibatkan Kementerian PAN dan RB atau Lembaga yang  
berkompeten di tahun yang tidak dilakukan penilaian oleh Kementerian  
PAN dan RB.  
d. Nilai Indeks yang merepresentasikan tingkat pelaksanaan SPBE  
dikelompokkan berdasarkan predikat sebagai berikut:  
1) Nilai 4,2-5,0 = Predikat "Memuaskan"  
2) Nilai 3,5 - < 4,2 = Predikat "Sangat Baik"  
3) Nilai 2,6 - < 3,5 = Predikat "Baik"  
4) Nilai 1,8 - < 2,6 = Predikat "Cukup"  
5) Nilai < 1,8 = Predikat "Kurang”  
e. Berdasarkan Keputusan Kementerian PAN dan RB RI Nomor 1503 Tahun  
2021 tentang Hasil Evaluasi Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik  
pada Kementerian, Lembaga dan Pemerintah Daerah Tahun 2021,  
menunjukkan bahwa indeks SPBE Badan POM tahun 2022 masuk dalam  
predikat baik (3,12). Hasil indeks SPBE Badan POM tahun 2021 telah  
melebihi dari target yang telah ditetapkan yaitu 2,57.  
f. Penyesuaian terhadap target untuk tahun berikutnya sebagai berikut:  
Realisasi Realisasi Target  
Penetapan  
Target 2024  
No  
Indikator  
2021  
2022  
2023  
1 Indeks SPBE BPOM  
2,91  
3,12  
3,3  
3,5