Bogor, 2 Juli 2026
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan B2B SMART IMPACT (Sinergi BPOM–Industri Farmasi dalam Asistensi Regulatori Peningkatan Kapasitas Produksi, Maturitas, dan Compliance CAPA Industri Farmasi), Direktorat Pengawasan Produksi Obat, Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor (Direktorat Wasprod) Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyelenggarakan Desk Verifikasi Self-Assessment Tools Kemandirian Industri Farmasi bersama sejumlah industri farmasi di Jawa Barat. Kegiatan ini bertujuan melakukan verifikasi terhadap pengisian Self-Assessment Tools Kemandirian, mengevaluasi kesesuaian data dukung, serta memberikan pembinaan untuk peningkatan level maturitas industri farmasi.

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Plt. Direktur Pengawasan Produksi Obat, Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor, Dr. Shanti Marlina, S.Si., Apt., M.Sc. Dalam arahannya, beliau menyampaikan bahwa Program Maturitas Industri Farmasi merupakan proses transformasi berkelanjutan untuk membangun budaya mutu, memperkuat sistem mutu industri farmasi, meningkatkan kepatuhan terhadap Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), serta mendorong kemampuan industri dalam melakukan perbaikan secara proaktif dan berbasis risiko. Beliau juga menekankan bahwa keberhasilan program tersebut memerlukan komitmen manajemen puncak, kompetensi sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam ekosistem kefarmasian.
Mendorong Peningkatan Maturitas Industri Farmasi
Kegiatan desk verifikasi menjadi bagian dari upaya pembinaan BPOM dalam memperkuat implementasi program Maturitas Industri Farmasi. Melalui kegiatan ini, BPOM menyampaikan perkembangan dan pembaruan pelaksanaan program Maturitas Industri Farmasi sekaligus memberikan pendampingan kepada industri dalam memahami indikator penilaian serta pemenuhan persyaratan yang diperlukan. Dalam sesi diskusi, perwakilan industri farmasi dan tenaga ahli menyoroti pentingnya sikap saling terbuka (openness) serta penguatan kolaborasi antar-Industri Farmasi (IF) dalam memenuhi kepatuhan dan meningkatkan maturitas, dengan harapan inisiatif perbaikan dapat semakin tumbuh dari industri itu sendiri.
Diskusi yang berlangsung turut menyoroti perjalanan panjang penguatan regulasi di Indonesia, mulai dari penerapan CPOB, keikutsertaan dalam PIC/S, hingga pencapaian status WHO Listed Authority (WLA), yang menjadi bukti nyata peningkatan kapasitas pengawasan BPOM sekaligus tantangan bagi industri farmasi untuk terus beradaptasi. Proses inspeksi dan verifikasi juga dipandang sebagai sarana pembelajaran bersama antara BPOM dan pelaku usaha farmasi dalam membangun budaya kepatuhan yang berkelanjutan.
Verifikasi dan Pembinaan Berkelanjutan


Selain melakukan verifikasi terhadap dokumen dan data dukung yang disampaikan industri, BPOM juga memberikan masukan untuk penyempurnaan implementasi aspek-aspek maturitas yang masih perlu ditingkatkan. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu industri farmasi meningkatkan level pemenuhan Self-Assessment Tools Kemandirian melalui penguatan aspek maturitas dan penerapan perbaikan berkelanjutan (continuous improvement). Pelaksanaan verifikasi maturitas ini pada dasarnya bertujuan untuk memastikan kebenaran data self-assessment yang disampaikan industri, memberikan intervensi secara langsung terhadap aspek-aspek yang memerlukan perbaikan, serta menyusun rencana perbaikan guna meningkatkan level maturitas industri secara berkelanjutan dan mendukung penguatan kemandirian industri farmasi nasional.


Telp :(021) 4245459